Kajian Hingga Munculnya Fatwa PUBG Haram Untuk Dimainkan (144 B)

Kajian Hingga Munculnya Fatwa PUBG Haram Untuk Dimainkan

Berita

lampuhijau.co – Pro dan kontra mengenai wacana MUI (Majelis Ulama Indonesia), yang membuat fatwa haram permainan PUBG atau Player Unknown’s Batle Grounds terus berlanjut. MUI beranggapan bahwa fatwa haram dicetuskan karena adanya aksi teror yang terjadi di dua masjid Selandia Baru, dimana teror ini terjadi karena terinspirasi oleh game PUBG di smartphone.

Sampai saat ini MUI terus melakukan kajian bersama dengan lembaga terkait untuk memutuskan fatwa ini, bagaimana jalan yang terbaik dalam memberikan fatwa pada game besutan Brendan Greene ini.

Boaz Simanjuntak sebagai Head Division of Online Safety SAFEnet menilai, bahwa gim aksi baku tembak yang mampu memicu aksi agresif pada pemain bisa dicegah. Salah satu cara pencegahannya dengan mengikut sertakan keluarga dalam memberikan penjelasan, bagaimana cara terbaik agar anak tidak terpapar tindakan menyimpang yang berujung dengan tindakan kekerasan.

Boaz juga mengatakan bahwa dirinya melihat bahwa komunikasi antara anak dan orang tua, serta kejujuran pada komunikasi haruslah dibentuk sejak kecil. Boaz juga menambahkan bahwa orang tua harus membangun komunikasi dengan anak secara baik, selain ingin didengar oleh anak, orang tua juga harus mau mendengarkan sang anak berbicara.

Boaz juga melanjutkan bahwa orang tua harus bisa menggambarkan dampak pada anaknya, apabila sang anak ingin melakukan sesuatu yang sekiranya salah. Sebagai contoh, apabila anak melakukan kekerasan, maka orang tua harus bisa menjelaskan bahwa dampak dari kekerasan itu akan menyebabkan kerugian pada orang lain. Dari hal kecil saja, maka anak bisa mengerti dan berusaha memahami. Namun bila cara berbicara salah maka hasilnya juga akan salah, dan untuk menghindarinya maka orang tua harus tahu bagaimana berkomunikasi dengan baik.

Baca juga : Kecerdikan Poliandri Ayu Yang Berhasil Memoroti Dua Suaminya Sebesar 1.4 M (144 A)

Selain peran orang tua dalam memberikan arahan pada anaknya, Boaz juga menambahkan bahwa komunitas juga perlu diberikan arahan mengenai tindakan penanganan seperti ini. Adanya komunitas bisa memberikan edukasi pada anak, selain itu dengan komunitas juga bisa digunakan untuk melakukan penyuluhan mengenai dampak baik dan buruknya game pada smartphone.

Boaz yang merupakan periset terorisme di Kreasi Prasasti Perdamainan juga mengaku setuju, dengan adanya pembahasan antara MUI bersama lembaga terkain mengenai pembatasan usia anak untuk bisa bermain game PUBG ini.

“Hal pertama yang harus diterapkan dalam bermain game adalah mengenai batasan usia, dimana pada pembatasan usia ini benar-benar harus ketat dan saya sebagai SAFEnet setuju akan hal ini.” tambah Boaz.

Namun meskipun pembatasan usia ini sudah diterapkan, pembatasan jam bermain juga harus diperhatikan. Namun untuk maslaah pembatasan jam ini merupakan privasi pada anggota keluarga, sehingga perlu adanya pembinaan pada orang tua mengenai hal ini. Sedangkan untuk fatwa MUI, dirinya menghargai atas sikap MUI akan pembahasan bersama lembaga terkait.